Ir. Tumiran M.Eng., Ph.D. : Maba Teknik, Rangking Atas dan Fantastik!

20 September 2010 pukul 9:18 am | Ditulis dalam Berita Teknik - UGM | 2 Komentar

MIT-Yogyakarta. Sibuk mengumpulkan soal try out, mengikuti berbagai bimbingan belajar, dan mencari info perkuliahan, rasanya sudah menjadi hal yang lumrah bagi siswa kelas XII SMA saat memasuki kalender akademik  di bulan Maret. Ya, inilah semangat mereka untuk mengahadapi berbagai ujian termasuk dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Sasarannya pun beragam.  Umumnya, perguruan tinggi favorit-lah yang dijadikan incaran pada list pertama mereka.

Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia menyatakan siap untuk menerima mahasiswa baru melalui tiga jalur masuk.  Ketiga jalur tersebut ialah Jalur Penelusuran Bibit Unggul (PBU), Ujian Tulis UGM (UTUL-UGM), dan SNMPTN 2010. Setidaknya 7.145 mahasiswa siap ditampung UGM pada tahun ajaran 2010/2011 ini (dikti.go.id).

Lalu bagaimana dengan Fakultas Teknik UGM sebagai fakultas terbesar dan menampung paling banyak mahasiswa baru? Untuk menjawabnya, Sabtu (17/7) lalu, secara eksklusif, MIT berhasil melakuakn dialog dengan Bapak Ir. Tumiran M.Eng P.hD, di sela-sela kesibukannya selaku Dekan Fakultas Teknik UGM.  Wawancara ini pun tak sebatas pada kapasitas teknik terkait penerimaan mahasiswa baru (maba) saja, namun juga pembahasan seputar kegiatan teknik dalam penyambutan mereka.

Berdasarkan portal direktorat administrasi akademik UGM, secara statistik disebutkan bahwa fakultas teknik memang merupakan fakultas yang memiliki daya tampung paling banyak bagi mahasiswa baru. Setidaknya terdapat lebih dari 1.200 maba yang diterima di fakultas ini, dengan jumlah pesaing  diatas 37.000 peserta tiap tahunnya. “Posisi kita pada rangking atas, bahkan dalam UM-UGM kemarin ada satu prodi yang rasionya 1 :134, yakni prodi TI (Teknologi Informasi), sementara prodi teknik yang lain rata-rata berrasio diatas 1:60. Ini suatu angka fantastik!” ucap Ayah 5 orang anak ini. Dimana teknologi informasi merupakan program studi yang baru dibuka pada tahun ini.

Memasuki inti dialog mengenai hakekat maba, secara gamblang beliau menyatakan bahwa kehadiran mereka merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kemajuan Indonesia. “Mahasiswa baru bagi saya sangat penting. Karena mereka adalah calon generasi penerus bagi ilmuwan Indonesia, khususnya di bidang keteknikan, yang harus kita terima dengan rasa tanggung jawab sesuai dengan standar pendidikan kita. Supaya mereka mampu berkompetisi tidak hanya pada tataran nasional melainkan internasional”, ujar Dekan yang juga aktif sebagai dosen mata kuliah Teknik Tegangan Tinggi di jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi. Maba Teknik merupakan orang-orang  cerdas yang terseleksi  dari puluhan ribu pesaing di seluruh penjuru nusantara. Atas dasar itulah Teknik senantiasa melakukan upgrade terhadap proses pembelajaran yang distandarisasi dari berbagai aspek, mulai dari tata kelola administrasi, tata kelola keuangan, hingga tata kelola akademis. Dimana aspek-aspek tersebut selalu diaudit guna akreditasi nasional dan internasional. “Maka dari itu kita harus mengelola pendidikan jangan sampai anak-anak yang cerdas ini salah proses dan kemampuannya di dalam berpendidikan tidak muncul secara optimal” tambahnya.

Telah sering kita mendengar pernyataan klasik yang mengatakan bahwa masuknya lulusan SMA ke perguran tinggi merupakan peralihan status siswa menjadi mahasiswa. Merespon hal tersebut, Pak Tumiran juga berkomentar bahwa memang ada suatu perubahan didalamya, salah satunya ialah transformasi antara proses pendidikan di SMA dengan perguruan tinggi. Dari SD hingga SMA seorang siswa selalu dilakukan pembimbingan secara intensif, dimana interaksi guru dengan murid sangatlah dekat. Tetapi saat menjadi mahasiswa, disinilah mereka dituntut untuk berprilaku mandiri. Karena dosen sebagai fasilitator, tidak lagi melakukan bimbingan face to face untuk mengevaluasi setiap peserta didiknya. “Tapi disitulah akan tertanam rasa kedewasaan, menumbuhkan kepercayaan diri, tanggung jawab atas penguasaan ilmu, dan kesiapan menghadapi peluang tantangan secara baik. Sebab ini adalah challenge mereka sebagai mahasiswa yang merupakan hasil interface dibimbing untuk tetap survive dalam menghadapi dunia kenyataan guna berkontribusi menyongsong masa depan” ucap dosen yang menyelesaikan S3-nya di Jepang ini. Meskipun, setelah itu beliau juga tidak memungkiri bahwa pendampingan dosen juga masih perlu dilakukan agar tidak ada peserta didik yang melenceng dan terlalu larut dalam euphoria sebagai mahasiswa baru.

Salah satu bentuk kegiatan yang mampu merangsang peralihan status tersebut secara cepat ialah dengan mengadakan orientasi kampus atau di UGM sering disebut dengan PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru). Dimana event ini merupakan kegiatan wajib berdasarkan SK Rektor No. 274/P/SK/HT/2010, yang harus diadakan di tiap fakultas termasuk di Fakultas Teknik. “PPSMB merupakan sebuah ajang yang tepat untuk mentransformasikan mahasiswa baru dalam menanamkan esensi ‘ini loh mahasiswa teknik’, bagaimana tantangan teknik kedepan, dan apa yang harus disiapkan sebagai mahasiswa teknik dalam proses pembelajaran 3,5 – 6 tahun kedepan untuk menjadi mahasiswa yang sukses” ungkap Doktor yang juga aktif sebagai Anggota Dewan Energi Nasional. Lanjut lagi, menurutnya, sukses yang dimaksud merupakan bukan sekedar mendapatkan IP yang tinggi namun juga sukses beradaptasi, berintegrasi, dan membangun network komunikasi tidak hanya antar mahasiswa teknik saja tetapi dengan mahasiswa jurusan lain. “Kalau IP-nya saja yang tinggi sudah banyak orang bisa mendapatkannya, tapi apakah dia langsung sukses setelah itu? Kita akan jauh lebih sukses kalau kita juga mampu mengintegrasikan keilmuan itu untuk berkontribusi bagi suksesnya orang lain.”, tambahnya.

PPSMB yang dilakukan di teknik selama 4 hari di bulan Ramadhan mulai tanggal 19-22 Agustus ini, memang disusun dan dilaksanakan oleh mahasiswa senior teknik. “Kami meminta bantuan senior, karena kondisi real mereka dengan adik-adiknya pasti jauh lebih dekat bila dibandingkan dengan dosen meliputi kondisi sosial dan lingkungannya.” jelas Beliau saat menjawab pertanyaan mengenai penyerahan acara PPSMB kepada senior.

Ketakutan maba pada umumnya adalah kekerasan saat menghadapi kegiatan orientasi atau yang biasa disebut ospek apalagi bagi mahasiswa teknik, meski kini telah berganti nama menjadi PPSMB. Mananggapi hal itu, Beliau menyangkalnya,  bahwa PPSMB ini merupakan suatu proses untuk membangun interaksi antara senior dan junior serta pengenalan esensi mahasiswa teknik dalam menyongsong masa depan. “Kalau ada cara lain yang tidak melalui itu (PPSMB) interaksi dan transformasi bisa terbangun dalam waktu yang lebih singkat, do it!” tantang Beliau saat menanggapi hal tersebut. “Tapi kalau tidak ada cara lain, ya kita lakukan! Namun perlu diingat jangan sampai itu membahayakan, seperti penyiksaan dan terbentuk psychology stress bagi mereka. Maka dari itu, perlu kita ciptakan suatu pendekatan yang humanis, bermanfaat, dan memberikan accelerate knowledge tentang pemahaman mereka mengenai masa depan yang akan dihadapi” lanjutnya.

Jaminan bahwa ospek teknik tidak akan berjalan dengan kekerasan seperti diatas memang sudah diberikan oleh Pak Tumiran sendiri selaku Dekan fakultas ini. “Meski ospek dipegang oleh senior, saya memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kepada mereka (senior) dalam menjalankan kegiatan ini sesuai dengan visi misi fakultas yakni membentuk calon pemimpin masa depan yang bukan penuh kekerasan melainkan berbasis intelektual.”, tegasnya. Senior harus memiliki “garansi” terhadap kelangsungan acara tersebut. Mereka harus bertanggung jawab dan berhasil memberikan para maba suatu pengetahuan tentang visi dan misi fakultas. “Kalau sekedar bentak-bentak, gak usah diurus mahasiswa teknik, preman aja dipanggil buat bentak-bentak juga bisa. Bahkan lebih menakutkan!”, singgungnya. Beliau pun menganggap bila PPSMB hanya sekedar kekerasan, maka senior dinilai gagal dan merugikan dalam pelaksanaannya. “Apalagi pelaksanaannya bulan Ramadhan, ini mestinya menjadi moment kita semua untuk menjalankan komitment bersama dalam pelaksanaan PPSMB.” tambahnya.

“Manfaatkanlah kesempatan ospek tahun ini sebaik-baiknya. Supaya mahasiswa baru tahu bagaimana kondisi sesungguhnya di jurusan, membangun komunikasi dengan senior-seniornya, dan beradaptasi dengan lingkungan teknik untuk membantu dalam pencapaian kesuksesan pendidikan di fakultas ini.”, harapan Beliau kepada maba saat mengakhiri wawancara yang berlangsung sekitar 26 menit di ruang KPFT lantai 3.

Pewawancara :
Rendy Adriyan Diningrat
Media Informasi Teknik BEM FTUGM
Perencanaan Wilayah dan Kota 2009

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] tahun 2010 didasarkan pada web BEMFT Cat: Calon mahasiswa dengan Nilai SNMPTN Tertinggi Nasional/Seluruh Indonesia juga ada di Prodi […]

  2. […] tahun 2010 didasarkan pada web BEMFT Cat: Calon mahasiswa dengan Nilai SNMPTN Tertinggi Nasional/Seluruh Indonesia juga ada di Prodi […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: