Kisah Putri Sunyi bagian 4 dan 5

7 Desember 2010 pukul 11:26 pm | Ditulis dalam Tak Berkategori | 1 Komentar

Kisah Sebelumnya (lengkapnya, baca di buku pesan BEM KMFT)

Suatu malam di sebuah rumah sakit kecil di desa, lahirlah seorang bayi mungil nan cantik. Tapi bayi itu divonis menderita kebisuan. Ayahnya tidak terima memiliki anak yang bisu, hanya mencukupi kebutuhan primer dan finansial saja. Di umurnya yang kesepuluh, ia diminta tolong ibunya membeli wortel ke pasar. Di tengah perjalanan pulang, ia mendengar ringkikan kuda yang indah. Ia pun menolong kuda yang rupanya tertusuk duri itu dan memberinya sebuah wortel.

4

Gadis bisu itu melanjutkan langkahnya menuju rumah. Sepanjang jalan ia tersenyum. Berharap kuda itu dapat berlari kencang setelah ia hilangkan duri yang menghujam kakinya.

Setibanya di rumah, ia mendapati ayahnya telah duduk di ruang tamu sambil membaca koran. “Dari mana kamu?” tegur sang ayah sambil mengintip dari balik koran.

Huan Zhu hanya menunjukkan keranjang belanjanya.

“Oh. Belanja, ya? Disuruh ibu membeli wortel?” Sang ayah menutup koran dan mendengus kesal. “Lain kali ditanya tuh jawab! Jangan diam saja! Buat apa punya mulut tapi gak bisa ngomong?” rutuk sang ayah.

Huan Zhu hanya bisa menunduk. Air matanya keluar setetes. Cukup setetes.

Sang bunda yang sedari tadi mendengar percakapan, segera berlari dan memeluk putri kesayangannya itu. Sang bunda menenangkannya dan mengajaknya ke dapur.

Malam datang mengukir bintang di angkasa. Nampak cahayanya berpendar menyusup ke dalam kamar yang dimakan gulita. Senandung angin laksana nyanyian pengantar tidur bagi siapa saja yang merasakannya. Ketika semua mata telah terpejam dan jiwa berpetualang di negrinya sendiri-sendiri, gadis cantik itu masih terjaga. Tangannya yang ringkih mengusap-usap punggung dan jemari kakinya. Dipeluknya kedua lutut yang lelah berpetualang seharian. Diletakkannya di atas lutut itu dagunya, yang menopang seluruh isi tengkoraknya. Termasuk sebuah otak yang menyimpan beratus-ratus kenangan selama sepuluh tahun ini.

Kenangan yang bukan seperti anak seusianya. Kenangan itu lebih banyak berisi kepedihan. Kepedihan yang terlalu tajam untuk sekedar dibayangkan. Kepedihan yang memberinya luka hati tak berkesudahan. Yang tak ia harapkan.

Seminggu lagi, batinnya. Seminggu lagi sejak hari itu, ia akan keluar dari angka 10. Sesungguhnya, di ulang tahun kesebelas ini, dia punya harapan. Harapan sederhana yang tak berani ia ucapkan. Karena seperti tahun-tahun sebelumnya, ia paham bahwa hal itu sangat sulit untuk diwujudkan.

Dan ia pun tertidur sambil memeluk erat harapannya.

5

Ibunda,

Terimakasih telah melahirkanku dan merawatku

selama sebelas tahun ini

Bunda, engkaulah satu-satunya

yang ikhlas menerimaku seperti ini

Apa adanya

Bunda,

Maafkan aku karena aku terlalu

banyak menyusahkanmu

Terimakasih banyak Bun

Bunda yang memberiku kebahagiaan selama ini

Aku benar-benar berharap suatu saat

Aku bisa membahagiakanmu

Tertanda,

Huan Zhu

Dimasukkannya surat itu ke dalam amplop. Tidak lupa ia sertakan sebuah ikat rambut merah hati ke dalam amplop itu. Siap ia berikan esok pagi. Karena ia sudah bertekad akan berubah.

Huan Zhu pun tersenyum dalam tidurnya.

Pagi harinya, setelah ayahnya berangkat kerja dan ibunya bersiap ke pasar, Huan Zhu memanggil ibunya dan memberikan surat itu. Sang bunda terkejut. Tapi gadis kecil itu mengisyaratkan agar sang bunda membukanya. Makin terkejutlah ia saat melihat isi dan membaca suratnya.

Sang bunda yang amat gembira langsung memeluk anaknya yang tersenyum manis. Ia berbisik, “Terimakasih sayang.. Selamat ulang tahun. Semoga harapanmu terkabul.” Lalu mencium kening putrinya. “Hari ini aku akan memasak sup ayam jagung kesukaanmu. Dan hari ini kau bebas bermain, tidak perlu membantuku di dapur. Oke?”

Senyum mengembang di wajah Huan Zhu bersamaan dengan jempolnya yang terangkat dan kepalanya yang mengangguk-angguk. Ia mencium pipi dan tangan bundanya sebelum melesat bagai anak panah.

(Rimie)

Iklan

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. mana lanjutannya?? >.<


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: